Sabtu, 18 April 2026

PROFIL SINGKAT PAROKI ST.BLASIUS ASAM BESAR

 Stasi St. Blasius Asam Besar Sebagai Pusat Pengembangan

1. Gambaran Umum

Pusat perekonomian berada di pusat Kecamatan Manis Mata yang didominasi oleh suku Melayu. Sebagai pusat desa dan kawasan pembangunan, Asam Besar merupakan medium, bukan pusat ekonomi dan tidak memiliki pasar maupun toko besar. Tidak ada kegiatan dan pertokoan yang menggugah minat masyarakat untuk datang ke Asam Besar. Mereka lebih suka berbelanja di Pangkalan Bun atau Manis Mata dan Air Upas. Karena letaknya, tempat tersebut hanyalah tempat yang banyak lalu lintas mobil dan penjual ikan dan sayur. Di pagi hari situasi tenang karena sebagian dari mereka bekerja sebagai buruh dan sebagian lainnya mengurus kebun sawit sendiri. Kaum muda bekerja keras mengangkut kelapa sawit ke pengepul.

Orang tua masih lebih suka tinggal di pondok sambil merawat hewan peliharaan seperti babi dan ayam serta merawat sawit milik sendiri. Hanya ada satu tempat di mana penduduk setempat mengumpulkan minyak sawit. Mereka jauh dari operasional perusahaan seperti perkantoran dan perusahaan sawit. Ke depan, lokasi yang sangat strategis menjadi peluang sekaligus tantangan besar bagi pusat berbagai kegiatan. Arah perkembangan kawasan Manis Mata unik untuk kawasan tersebut. Dari segi gerejawi, Asam Besar merupakan pusat perkembangan agama Katolik di wilayah Manis Mata, di tengah hilir Sungai Jelai. Di tempat inilah tonggak sejarah Gereja Katolik dimulai, dimana 30 anak sekolah dan 5 (lima) orang dewasa dibaptis oleh guru NTT.

Asam Besar resmi menjadi stasi dari paroki Maria Asumpta Tanjung pada tanggal 10 April 1988 sesudah sebelumnya pernah disinggahi oleh Bapak Uskup Mgr. Blasius Pujaraharja dalam kesempatan safari pastoral di wilayah Sungai Jelai dan kunjungan ke keluarga transmigrasi mandiri binaan Yayasan Sugiyo Pranoto Semarang yang bermukim di wilayah Sedawak Sukamara pada tahun 1984. 38 tahun perjalanan iman kristiani dihitung dari kedatangan Uskup Ketapang, Stasi Santo Blasius Asam Besar (begitu mereka memilihkan nama pelindung) merupakan wilayah tengah, hilir, luas, dan direkomendasikan menjadi pusat pelayanan singgah para Romo agar mudah menjangkau wilayah sekitar hilir Kecamatan Manis Mata.

2.  Aksesibilitas

Karena gereja terletak di tengah desa Asam Besar, masyarakat dapat dengan mudah dijangkau dengan berjalan kaki. Jarak menuju Stasi-Stasi juga tidak terlalu sulit. Dibutuhkan rata-rata 1-5 menit untuk menempuh perjalanan ke Kuala Asam dan Bagan Kusik, dan 1-1,5 jam ke stasiun terjauh. Jalan utama dalam kondisi baik dari segala arah. Jarak Stasi Saint Blasius Asam Besar dengan Kecamatan Manis Mata ± 11 km. Sudah ada satu gereja yang kondisinya masih sangat bagus, dan juga rumah-rumah kelas menengah yang cukup banyak.

    3. Kependudukan

Jumlah penduduk Asam Besar sediri sebanyak 192 KK dengan jumlah jiwa 557 orang. Dari jumlah tersebut terdapat 76 KK Katolik dengan jumlah jiwa 241 orang, penduduk beragama Islam terdapat 81 KK dengan jumlah jiwa 258 orang, agama Protestan sebanyak 3 KK dengan jumlah jiwa 8 orang dan penduduk yang masih menganut kepercayaan sebanyak 32 KK dengan jumlah jiwa 50 orang

  4. Fasilitas Layanan Umum dan Sosial

Desa ini memiliki perumahan permanen, taman kanak-kanak, sekolah dasar dan menengah dan PUSTU. Tidak ada air bersih untuk umum. PLN dan tenaga surya untuk mengontrol saat PLN mati. Ada menara Telekomsel dan kabel optik sedang dipasang. Ada rumah adat, tempat ibadah katolik dan masjid (sedang dibangun).

  5. Pendidikan

Ada sekolah PAUD dengan 18 siswa dan 4 guru (lulusan SMA). Ada sekolah dasar negeri dengan 68 siswa dan 9 guru. Ini adalah sekolah menengah negeri dengan 80 siswa dan staf pengajar 5 guru. Ada 1 anak yang bersekolah di SMA Yohanes Ketapang, 7 orang SMA Negeri Manis Mata, 5 orang SMK Taruna SP-10, 1 orang SMA Sukamara, 5 SMK Sukamara dan 2 orang SMK di Bogor, Jawa Barat, Yogyakarta berjumlah 1 orang. Saat ini ada 11 anak yang kuliah di Perguruan Tinggi (Farmasi Semarang 1 orang, UT Ketapang 4 orang, UT Suka Mara 2 orang, Sanata Dharma 1 orang, Atma Jaya Yogyakarta 2 orang, RESPATI Yogyakarta 1 orang). 17 orang lulus dari Universitas (1 orang lulusan UNTAN, 2 orang dari INSTIPER Yogyakarta, 5 orang dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, 1 orang dari Atma Jaya Yogyakarta, 1 orang dari RESPATI Yogyakarta, 1 orang dari AKBID Bantul, 2 orang dari STIKES Elisabeth Semarang , STKIP Pontianak 2 orang, AKPER DHI Pontianak 1 orang, AKPER Pemda Ketapang 1 orang.

  6. Kondisi Ekonomi

a. Mata Pencaharian

Rata-rata mata pencaharian penduduk dusun Asam Besar dari perkebunan sawit. Setiap KK memiliki kebun sawit KKPA maupun kebun sawit pribadi. Selain kebun sawit, beberapa dari umat juga masih memiliki kebun karet dan bertanam padi. Mereka juga beternak babi, ayam dan memelihara ikan. Kontur tanah di wilayah ini rawa dan danau kecil. Bila dipresentasikan 60% memiliki usaha perkebunan sawit, 15% kebun karet dan ladang padi 15%), dan 5%,selebihnya tanah rawa belum diolah yang sangat potencial untuk usaha perikanan.

b. Pendapatan Per – KK dan Pola konsumsi

Dalam kondisi pekerjaan yang berbeda2 dan tak  menentu, cukup sulit untuk menentukan pendapatan bulanan masyarakat. Namun dapat ditentukan dengan menghitung hasil pertanian utama berupa hasil padi sekitar 15 karung per tahun sedangkan budidaya padi tetap menggunakan tebas bakar.

Hasil kelapa sawit sendiri masih sedikit di atas 500 kg sekaligus. Kebanyakan dari mereka bekerja sebagai tangan panen. Masyarakat Asam Besar baru memulai kebun sawit mandiri dalam tiga tahun terakhir, perkiraan dua tahun ke depan hanya terkait panen. Rata-rata pengeluaran harian umat tanpa tabungan di CU melebihi Rp 300.000. Kesadaran menabung di CU semakin berkembang, rata-rata keluarga memiliki tabungan di CU. 

  7. Program – program bantuan   

Ada beberapa proyek pembangunan dan pemberdayaan yang telah, sedang dijalankan:

1.    Bantuan Gedung PAUD (bantuan dari pemerintahan desa Asam Besar)

2.    Bantuan gedung SD dan SMP dari pemerintah Kabupaten Ketapang dan aspirasi dewan (DPR)

3.    Program bantuan rumah adat Dayak dari pemerintah (rumah adat ini digunakan sebagai rumah adat Dayak Dusun Asam Besar dan juga rumah adat masyarakat Dayak se-Kecamatan Manis Mata)

4.    Kantor perikanan ada 1 (bantuan dari pemerintah)

5.    Steher (jembatan di pelabuhan) bantuan dari aspirasi dewan

6.    Jalan rabat beton (bantuan dari aspirasi dewan)

7.    Bantuan pembangunan dan perbaikan jalan dari perusahaan (PT Cargill)

8.    Bantuan pertanian dan perikanan dari perusahaan (PT Cargill) masih dalam proses.

9.    Kerja sama penataan danau bersama Mahasisa Atmajaya Jogjakarta.

10.  Usaha pemberdayaan mebel dan penggunaan limbahnya dengan PSE-Caritas Keuskupan dan Paroki

  8.Kesehatan masyarakat:

Pemerintah cukup memperhatikan pelayanan kesehatan, seperti membangun Pustu, ada bidan desa, ada perawat, ada ambulan. Sangat berguna untuk perawatan darurat. Posyandu rutin dilaksanakan sebulan sekali (termasuk posyandu bayi, ibu hamil dan lansia). Itu pelajaran kesehatan masyarakat yang baik. Jika berbicara tentang kesadaran kesehatan, pencegahan, kesehatan lingkungan atau kesehatan daerah, stunting sepertinya masih memerlukan perhatian khusus. Hampir setiap rumah memiliki toilet, tetapi banyak yang suka berenang di danau atau membuang sampah di jalan. Kita masih ingat pengalaman imersif Covid 19. “Kami mengabadikan suasana BKIA saat suster BKK Tanjung mengajari kami ibu-ibu praktik Dukun Beranak, memasak masakan bergizi,” tutur salah satu ibu kepada rombongan persiapan.            

                     9. Kondisi Sosial dan Budaya

a.  Adat dan Budaya

Adat masih sangat berperan terutama berhubungan dengan perkara adat menyangkut sengketa tanah, perceraian, salah basah, perkawinan. Meski demikian karakteristik orang hulu yang begitu patuh dengan adat istiadat mulai memudar, anak muda semakin jauh saja. Banyak orang muda hanya sekadar menjadi penonton. Kebiasaan gotong royong misalnya mulai tidak diminati, hanya golongan tua yang masih rajin datang bergotong royong untuk membuka ladang menebas, atau kegiatan bersih bersih pada hari raya atau momen-momen penting.

b. Masalah–Masalah Sosial

Tidak ada pengangguran, malah orang berlomba-lomba untuk mendapatkan uang dengan cepat, misalnya dengan mencuri buah sawit. Alkohol biasa mudah ditemukan dan di setiap pesta seseorang menjadi tidak terkendali dengan minum terlalu banyak. Sebagian besar terjadi pada orang muda. Masalah narkoba selalu menjadi topik diskusi, tetapi tidak banyak yang bisa dilakukan oleh mereka yang terlibat. Mengetahui bahwa A, B, pengguna yang bersangkutan atau pedagang yang terlibat dapat diidentifikasi dari perilakunya membuat perdagangan menjadi sangat sulit. Anda jarang berani melaporkannya ke polisi, lagi pula mereka kebanyakan cuek dan takut. Setiap desa yang semarak selalu memiliki pelabuhan Kolok-Kolok. Parahnya lagi, masih ada orang yang diam-diam ikut serta dalam judi online.